This entry was posted on Tuesday, July 29th, 2008 at 1:02 am and is filed under HIV/AIDS. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Widari
Where pink butterfly telling a story
Tulisan ini dibuat oleh seorang ayah. saya memposting tulisan ini atas permintaan beliau.
Tengah malam ketika upacara kremasi berakhir, aku tinggalkan kota mataram bersama istri, mertua, anak dan cucuku. Langit waktu itu cerah, banyak terlihat taburan bintang-bintang menghiasi cakrawala. Walaupun debur ombak selat Lombok amatlah keras, menghempas lambung kapal sebelah kiri. Kapal yang kami tumpangi tak goyah sedikitpun. Kami menyebrangi lautan dari Lembar menuju Padangbai.
Kepergianku meninggalkan kota Mataram, bukan tak beralasan. Aku mengikuti upacara kremasi menatuku di kota yang terkenal dengan pantai sengiginya itu.
Aku berdiam diri di atas dek kapal Fery tua yang aku tumpangi, sambil menengadahkan kepalaku. Ombak tak henti-hentinya menghempaskan airnya ke dinding kapal fery tua itu.
Aku sebenarnya sudah amat sangat merindukan rumahku, yang telah kutinggalkan selama seminggu di kota Mataram, untuk mengikuti upacara kremasi menantuku.
Sebuah proses kremasi yang sangat aneh buatku. Sebab selama hidupku, tak pernah kusaksikan jenazah yang telah dikubur diangkat kembali untuk di kremasi.
Dan anehnya lagi peti yang membungkus jenazah menantuku pun tak boleh dibuka sama sekali. Sebuah tempat yang dibuat dan ditutup rapat oleh seng, telah disipakan untuk membakar jenazah menantuku.
Yah…semua orang takut, takut virus yang telah membunuh menantuku juga menginfeksi orang lain, yang berada disekitar tempat menantuku di di kremasi. HIV/AIDS, telah merenggut nyawa menantuku, dan memisahkannya dengan anak dan cucuku.
Tapi apakah HIV/AIDS itu suatu Aib. Sampai akhirnya, jenazah yang telah dikubur harus diangkat kembali. Mereka takut ketika jenazah manatuku dikuburkan, virus dalam tubuhnya akan mencemari air dan lingkungan di sekitar kuburan tersebut.
Kejadian pembongkaran kuburan menatuku ini berawal, pada saat muncul pemberitaan di Koran terkait kematian menatuku. Dan menyeruruak ketakuan bagi orang-orang disekitar kuburan. Mereka mengangap HIV/AIDS adalah penyakit yang berbahaya, penyakit orang-orang kotor dan menjijikan.
Sambil menikmati cakrawala, aku sesekali melihat anakku Ikha dan cucuku Adinda yang cantik dan mungil. “semoga mereka diberikan kekutan oleh Hyang Widhi dalam menempuh kehidupan yang penuh goncangan untuk dapat dibesarkan hatinya berjuang melawan gelombang kehidupan yang dahsyat ini.” Doaku dalam hati, sambil ku menatap lekat kedua orang yang telah ditinggal oleh Ayah dan suaminya.
Fajar telah menyingsing, kapal fery yang aku tumpangi telah bersandar di pelabuhan Padang Bai. Kamipun melanjutkan perjalanan menuju Bali Utara, tepatnya di desa Kaliasem Lovina.
Kedatangan kami disambut oleh beberapa orang kerabat dan tetangga. Mereka, menunggu kabar tentang apa yang terjaid di mataram. Kedatangan mereka cukup beralasan. Mereka juga mebaca berita yang tersebar di media cetak lokal Bali, terkait kematian menantuku.
” wah, Pak Nyoman, saya membaca di koran tentang kematian menantu bapak, kenapa sampai bisa diberitakan seperti itu….??? seolah-olah mencemarkan nama baik keluarga saja, mereka (media red.) tidak menjaga privasi orang lain !! !!! tanya seorang kerabat padaku..
”Biarkan saja, itu hal biasa-biasa saja mungkin itu yang baik untuk mereka agar oplah penjualan berita mereka naik” demikian kilahku pada semua orang yang mengunjungiku.
“Terima kasih Tuhan demikian bisikku” ternyata tetangga menerima baik apa yang dialami menantuku. Kematian adalah hal yang wajar, sebab semua orang akan mati walaupun diakibatkan oleh AIDS.
Hari-hari pun bersinar cerah dalam keluarga kami. Aku ditemani Suki & Planet yang menjadi aktivis HIV & AIDS di Lovina. Selalu memberikan motivasi, bahwa hidup ini harus dijalani bagai air yang mengalir di sungai, toh akan mengalir ke laut juga.
Anakku menerima hasil positif hasil tes darah, sedangkan cucuku satu-satunya mendapatkan test negatif.
Dengan statusnya yang HIV Positif anakku akan menjalani kehidupannya yang penuh tantangan. Dan ia pun meninggalkan kota kelahirannya menuju Denpasar. “Bapak! Ikha mau ke Denpasar, Gek Dinda akan saya titipkan dengan bapak dan Ibu dirumah, tiang mohon doa restunya agar di Denpasar tiang mendapatkan pekerjaan yang layak untuk masa depan Dinda”, demikian pintanya.
Saat rona merah di ufuk barat dan matahari akan tenggelam, dan burung-burung terbang ke barat menuju lembayung senja. Sejenak sebelum aku memberikan jawaban terlintas di benakku bahwa kita tak ubahnya bagai burung-burung itu, pagi-pagi mencari makan dan sore mereka kembali ke sarangnya.
Kemudian akupun memberikan jawaban kepada anakku, “Kamu boleh saja pergi merantau tapi kamu harus ingat anakmu yang merupakan buah hati antara kamu dan almarhum suamimu, dengan status HIV-mu sekarang kamu akan banyak menemui tantangan dalam hidupmu, belajarlah hidup mandiri. Berbuatlah yang terbaik dan Tuhan akan selalu melindungimu.
Empat tahun sudah Ikha tinggal di Kota Denpasar, telah terjadi perubahan yang signifikan, terutama terhadap kepercayaan diri, cara hidup dan cara pandangnya untuk menjalani hidup sebagai orang yang terinfeksi HIV. Banyak hal telah yang dia lakukan, seperti membagikan pengalaman hidupnya kepada banyak orang.
Suatu ketika Ikha mengajakku untuk mengikuti sebuah konser amal di daerah Tuban. Sebelum Ikha mengajakku ia bertanya kepadaku “Apakah Bapak keberatan kalau aku memberikan kesaksian dihadapan 700 orang?” Akupun menjawab, “Kha, kamu harus mau menjadi seorang relawan karena dengan kamu memberikan kesaksian Bapak berharap itu akan mampu menggugah hati semua orang.”
Tak terasa air mataku menetes, ketika anakku mendengarkan kesaksian dihadapan orang-orang, bersamaan dengan itu aku pun merasa bangga kepadanya. Setiap hari aku selalu memikirkan kesehatannya, Ikha adalah putriku yang paling aku sayangi.
Terkadang aku sedih ketika aku harus diingatkan tentang kondisinya yang nantinya dia akan masuk ke stadium AIDS. Sebab yang ada dipikiranku AIDS tidak ada bedanya dengan kematian.
Tuhan mungkin telah membuat rencana lain, tentang kehidupan keluargaku, agar hidup ini lebih berarti dan berguna di masyarakat dan orang lain. Aku pun tak berdiam diri, setelah aku mendapatkan pelatihan untuk Ohida di Pontianak akhir 2007 lalu.
Aku memutuskan untuk membentuk sebuah komunitas bernama Kosala Bali, yang artinya Komunitas Sayang Keluarga. Kelompok ini berdiri untuk mewujudkan lingkungan yang lebih kondusif khususnya dikeluarga untuk orang yang HIVpositif.
Singaraja, 29 April 2008,I Nyoman Sudrana, SP.
4 Responses to “Opsi seorang Ohidha”












July 30th, 2008 at 4:07 am
Sebuah cerita kehidupan dan nyata, hidup tidak untuk disia-siakan dan hidup wajib disyukuri . Selamat Pak !!
July 30th, 2008 at 11:14 am
titip salam buat bapak ya ke. seorang ayah yang luar biasa.
July 30th, 2008 at 8:51 pm
tulisan yang dalam dan menggugah dari seorang ayah, sebuah semangat dan keberanian yang dilandasi kasih sayang yang dalam dari seorang figur ayah (yang jarang ditemui pada figur ayah yang lain)
thanks God, for the “super dad” you have gek.
salam buat aji’ sudrane ya
July 31st, 2008 at 1:21 am
hihii…koq tau ini tulisan bapakku…
thanks buat masukkannya..nanti aku sampaikan buat bapakku tersayang.