This entry was posted on Friday, May 23rd, 2008 at 1:49 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.
Widari
Where pink butterfly telling a story
Kurang lebih 50 orang remaja dan aktifis berkumpul di Popo Danes Art Veranda, Kamis 22 Mei 2008. mereka berkumpul bukan tanpa alasan. Para remaja dan aktivis ini berkumpul untuk mengadakan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN), yang memang di gelar setiap tahunnya.
Halaman belakang Popo Danes telah diatur sedimikian rupa oleh Tomok dan kawan-kawan. ada beberapa buah lilin mengitari, bentangan kain berwarna hitam dan bambu yang di cat merah dan di bentuk menyerupai pita merah yang merupakan lambang kepedulian terhadap HIV dan AIDS. semua yang hadir, duduk beralaskan rumput hijau.
Ada Pembacaan puisi dan cerpen oleh anak-anak dari komuniatas Sahaja, Eka Pranita Dewi dan pembacaan surat untuk sahabat dari aku sendiri. yach, malam renungan kali ini dihujani banyak puisi. karena secara beruntun puisi demi puisi di bawakan.
Selain pembacaan puisi dan cerpen, ada juga tampilan dari Yohanes yang entah jenis musik apa yang ia mainkan dengan menggunakan mainan anak-anak.
Satu lagi yang tak kalah menarik, ada anak-anak Kelompok Mahasiswa Peduali AIDS (KMPA)yang menyanyikan beberapa buah lagu dengan diiringi dua buah gitar, satu keyboard dan satu buah perkusi alakadarnya.
Nah serunya pas anak-anak ini nyanyi suara gitarnya nggak terdengar begitu jelas. alhasil, aku dan satu orang teman namanya Anton ( bukan Anton Muhajir ), megangin mike buat dua orang gitaris tersebut. lumayan pegel juga sie…,tapi demi kelancaran acara pegel…lewat….!!
selain anak-anak KMPA, Wah agus dan lengkong dari Komunitas Taman65 juga menyumbangkan beberapa lagu.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memaknai MRAN, salah satunya seperti acara yang digelar oleh anak-anak Kisara, komunitas Sahaja ini.
Tak perlu ada tetesan air mata, untuk mengenang sahabat, keluarga yang telah terlebih dahulu meninggal karena HIV dan AIDS. Optimisme dan semangat untuk menekan angka penularan HIV dan AIDS, dan bagaiman kita belajar dari kasus-kasus HIV dan AIDS terdahulu agar kedepannya penanggulangan HIV dan AIDS bisa lebih baik lagi.
Sekilas tentang MRAN :
Malam Renungan AIDS Nusantara merupakan kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan setiap tahun (biasanya dalam bulan Mei) secara serentak di seluruh Dunia. Di Indonesia kegiatan ini sudah ada semenjak tahun 1991, namun baru pada tahun 1996 penyelenggaraan MRAN menjadi meluas hampir ke seluruh provinsi di Indonesia.
Kegiatan yang bersifat non politis, mengajak semua orang untuk sementara waktu melupakan kesibukannya dan melakukan renungan AIDS. Malam Renungan AIDS Nusantara ini bertujuan untuk menyatukan semua orang dalam memikirkan dan merenung epidemi AIDS yang sudah banyak mengambil nyawa manusia di dunia.
Dengan MRAN ini kita diajak juga untuk memberi dukungan kepada Orang dengan HIV/AIDS (Odha) dan Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (Ohidha). Melalui renungan AIDS kita diajak bukan saja untuk peduli terhadap masalah AIDS tetapi melalui renungan kita diajak untuk mengambil langkah-langkah penanggulangan. Jadi MRAN bisa mengubah penderitaan menjadi tekad dan tindakan yang membawa perubahan.(Sumber:Spiritia).
3 Responses to “MRAN, bertabur Puisi”












May 28th, 2008 at 12:20 am
kek, sori bgt waktu itu ga jd dateng. ada miskom sama lode. katanya ditunda. eh, trnyata itu MRAN yg lainnya.
padahal kayaknya seru bgt tuh.
June 21st, 2008 at 9:30 am
saat gw pertama kali ikut MRAN di Taman Menteng, gw merasa lebih berempati dan lebih dekat dengan teman-teman. Terimakasih karna tlah diberikan kesempatan tuk bergabung bersama teman-teman dari berbagai latar belakang, ini kan menjadi inspirasi tuk selalu berjuang menghilangkan stigmatisasi dan diskriminasi ODHA
October 22nd, 2008 at 1:22 am
mbak kapan bisa nulis puisi buat ngisi blogku?