Widari
Opsi seorang Ohidha
07 29th, 2008Tulisan ini dibuat oleh seorang ayah. saya memposting tulisan ini atas permintaan beliau.
Tengah malam ketika upacara kremasi berakhir, aku tinggalkan kota mataram bersama istri, mertua, anak dan cucuku. Langit waktu itu cerah, banyak terlihat taburan bintang-bintang menghiasi cakrawala. Walaupun debur ombak selat Lombok amatlah keras, menghempas lambung kapal sebelah kiri. Kapal yang kami tumpangi tak goyah sedikitpun. Kami menyebrangi lautan dari Lembar menuju Padangbai. Read the rest of this entry »
Jaringan Orang Terinfeksi HIV Indonesia
07 25th, 2008terkait dengan terbentuknya Jaringan Orang Terinfeksi HIV indonesia yang di singkat JOTHI. berikut ini saya lampirkan beberapa kliping media terkait dengan JOTHI.
WASPADA ONLINE
Stigma terhadap Pengidap HIV Diharapkan Segera Hilang
(JAKARTA) - Stigma atau diskriminasi di berbagai bidang kehidupan yang dialami oleh pengidap HIV selama ini diharapkan dapat segera hilang seiring dengan semakin banyaknya lembaga yang memperjuangkan penghilangan diskriminasi itu.
Jaringan Orang Terinveksi HIV Indonesia (JOTHI) dalam diskusi yang berlangsung di Jakarta, menyatakan saat ini diskriminasi dan pengenaan stigma terhadap pengidap HIV masih berlangsung karena berbagai sebab. Read the rest of this entry »
“I trust you Bi..”
07 18th, 2008Perempuanku kembali berdiri
perempuanku merasakan angin berhembus menerpa wajahnya
Angin yang menuntunnya
Menuju masa depan penuh arti
Ya, Perempuanku percaya janjimu
Janjimu memberikan aku keberanian
walupun badai dihadapkan pada cinta kita
Cinta Kita akan terus menghadang
dan Cinta Perempuanku akan terus tumbuh
karena Perempuanku percaya padamu
Bi…I Trust You
Perempuan”ku” Part # 3
06 26th, 2008Tertunduk sedih Perempuanku. Hanya terdiam renungkan semuanya. Lama jiwanya tenggelam dalam diam. Masih bingung harus bagaimana dalam dunia yang begitu diskriminatif ini, meskipun telah banyak sabar yang ia semai.
Perempuanku berjalan di jejak kelabu, meskipun tertatih ia tetap menenun asa. Desir angin membelai tubuh perempuanku. membisikkan nada-nada mempesona, agar dirinya kembali merajut asa dan cinta dalam meski dalam alunan kepiluan.
My room. Big Thanks for. dr.Okanegara and specialy for my dear
Let`s Join with Us
06 19th, 2008Cinta “satu paket”
06 12th, 2008Nyambung postingan aku ‘Ini bukan pooling, Just need your comment”. Setelah melihat, menimbang dan memutuskan..
, akhirnya jadi juga postingan satu ini Cinta “satu paket”. HIV bukan akhir dari segalanya, dunia tak musti kiamat dong meskipun menjadi orang yang hidup dengan HIV. Read the rest of this entry »
ini bukan Pooling…., Just need your comment
05 26th, 2008Ok, ini bukan pooling cuma pengen nanya sama semua orang yang blog walking ke widari.com.
Ini contoh kasus aja ya…
Jika ada seseorang dan anda jatuh hati alias jatuh cinta padanya dan pada saat itu orang tersebut berkata jujur ” aku HIV Positif “
Beberapa temen bilang
1. “Sebaiknya aku nggak usah tau statusnya sekalian daripada harus tau.” (ketika sudah tahu Pingsan! Shock?)
2. “Kejujuran itu penting menurutku, dan “dia tahu” apa yang dia lakukan.”
Apa yang akan anda lakukan dan menurut anda ( ceile…bahasa gw nok….!!!) sebaiknya seperti apa…??
Perempuan dengan HIV, juga bisa punya anak loh….
05 26th, 2008
Pertanyaan yang sering banget muncul pada perempuan yang terinfeksi HIV, terutama perempuan yang sudah membuka status HIVnya kepada orang lain…
“Apakah perempuan Positif HIV bisa punya anak…??”
Pertanyaan klasik yang harus dijawab tentunya,
Sering ada salah pengertian, bahwa anak yang terlahir dari ibu yang HIV positif akan terinfeksi juga. tapi menurut buku yang aku baca sendiri “Pencegahan Penularan dari Ibu ke Bayi“( kebetulan buku ini aku dapet dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali). Tanpa intervensi atau tanpa pencegahan, anak yang lahir dari ibu yang HIV positif HIV persentasenya adalah, 60-75 % anak tersebut tidak terinfeksi. akumulasi dari persentase tersebut, yakni 5 % pada saat bayi dalam kandungan,15 % waktu lahir dan 10 % dari Air Susu Ibu (ASI).
MRAN, bertabur Puisi
05 23rd, 2008Kurang lebih 50 orang remaja dan aktifis berkumpul di Popo Danes Art Veranda, Kamis 22 Mei 2008. mereka berkumpul bukan tanpa alasan. Para remaja dan aktivis ini berkumpul untuk mengadakan Malam Renungan AIDS Nusantara (MRAN), yang memang di gelar setiap tahunnya.
Halaman belakang Popo Danes telah diatur sedimikian rupa oleh Tomok dan kawan-kawan. ada beberapa buah lilin mengitari, bentangan kain berwarna hitam dan bambu yang di cat merah dan di bentuk menyerupai pita merah yang merupakan lambang kepedulian terhadap HIV dan AIDS. semua yang hadir, duduk beralaskan rumput hijau.
Ada Pembacaan puisi dan cerpen oleh anak-anak dari komuniatas Sahaja, Eka Pranita Dewi dan pembacaan surat untuk sahabat dari aku sendiri. yach, malam renungan kali ini dihujani banyak puisi. karena secara beruntun puisi demi puisi di bawakan.
Selain pembacaan puisi dan cerpen, ada juga tampilan dari Yohanes yang entah jenis musik apa yang ia mainkan dengan menggunakan mainan anak-anak.
Satu lagi yang tak kalah menarik, ada anak-anak Kelompok Mahasiswa Peduali AIDS (KMPA)yang menyanyikan beberapa buah lagu dengan diiringi dua buah gitar, satu keyboard dan satu buah perkusi alakadarnya.
Nah serunya pas anak-anak ini nyanyi suara gitarnya nggak terdengar begitu jelas. alhasil, aku dan satu orang teman namanya Anton ( bukan Anton Muhajir ), megangin mike buat dua orang gitaris tersebut. lumayan pegel juga sie…,tapi demi kelancaran acara pegel…lewat….!!
selain anak-anak KMPA, Wah agus dan lengkong dari Komunitas Taman65 juga menyumbangkan beberapa lagu.
Ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk memaknai MRAN, salah satunya seperti acara yang digelar oleh anak-anak Kisara, komunitas Sahaja ini.
Tak perlu ada tetesan air mata, untuk mengenang sahabat, keluarga yang telah terlebih dahulu meninggal karena HIV dan AIDS. Optimisme dan semangat untuk menekan angka penularan HIV dan AIDS, dan bagaiman kita belajar dari kasus-kasus HIV dan AIDS terdahulu agar kedepannya penanggulangan HIV dan AIDS bisa lebih baik lagi.
Sekilas tentang MRAN :
Malam Renungan AIDS Nusantara merupakan kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan setiap tahun (biasanya dalam bulan Mei) secara serentak di seluruh Dunia. Di Indonesia kegiatan ini sudah ada semenjak tahun 1991, namun baru pada tahun 1996 penyelenggaraan MRAN menjadi meluas hampir ke seluruh provinsi di Indonesia.
Kegiatan yang bersifat non politis, mengajak semua orang untuk sementara waktu melupakan kesibukannya dan melakukan renungan AIDS. Malam Renungan AIDS Nusantara ini bertujuan untuk menyatukan semua orang dalam memikirkan dan merenung epidemi AIDS yang sudah banyak mengambil nyawa manusia di dunia.
Dengan MRAN ini kita diajak juga untuk memberi dukungan kepada Orang dengan HIV/AIDS (Odha) dan Orang yang hidup dengan HIV/AIDS (Ohidha). Melalui renungan AIDS kita diajak bukan saja untuk peduli terhadap masalah AIDS tetapi melalui renungan kita diajak untuk mengambil langkah-langkah penanggulangan. Jadi MRAN bisa mengubah penderitaan menjadi tekad dan tindakan yang membawa perubahan.(Sumber:Spiritia).
Begitu berarti bagiku
05 21st, 2008Luka pada kedua sayap kecilku
Telah hilang….
ketika hembusan nafasmu
Masuk dalam setiap aliran darahku
Tiap hembusan nafasmu
Begitu berati bagiku
Yang mampu menutup
Luka kecil sayap kecilku
Kurasa keteduhan hati
Menapaki jalan hidup ini
Semoga kau takkan pernah lelah `tuk slalu bersamaku
Menuntunku mengepakkan kedua sayap kecilku
Denpasar, 21 Mei 2008










